Hari ini kubuka jendela kamarku, menatap sang mentari yang sedang
memancarkan teriknya. Kutujukan mataku kepada seorang pemulung yang
sedang bermain bersama anak dan istrinya. Walau aku mempunyai rumah
besar, dan pembantu yang banyak dan aku tidak akan mengalami kekurangan
harta sedikit pun, aku merasa orang paling miskin di dunia ini, bukan
karena harta melainkan karena ku ingat tentang orang tuaku. Mereka
bekerja pagi sampai bertemu malam begitupun sebaliknya, seakan ku tiada
diantara mereka. Seakan aku memang tidak berguna bagi orang tuaku. tak
bisa berbincang menatap senyuman orang tuaku, dimarahi maupun mendapat
kasih sayang mereka. Melihat kenyataan itu, seakan ku ingin meneteskan
air mata. Tuhan tak apalah aku menjadi orang yang kekurangan harta, tapi
aku tak ingin kekurangan kasih sayang orang tuaku. Tuhan aku merasa iri
dengan keluarga pemulung itu, bersenda gurau bersama anak mereka.
Sedangkan aku hanya menerima limpahan uang dari orang tuaku tanpa bisa
melihat mereka dan bertatap muka dengan mereka. Mungkin kalau aku
seperti keluarga pemulung itu aku akan menjadi oraang yang sangat
sempurna, dan ku yakin aku akan tetap sempurna jika aku bisa terus
bersama kedua orang tuaku. Tuhan berilah arti sempurna itu kepadaku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar